Rabu, 27 April 2011

DARAH IKAN


1.1.  Definisi Darah
Darah merupakan salah satu komponen sistem transpor yang sangat vital keberadaannya. Fungsi vital darah di dalam tubuh antara lain sebagai pengangkut zat-zat kimia seperti hormon, pengangkut zat buangan hasil metabolisme tubuh, dan pengangkut oksigen dan karbondioksida. Selain itu, komponen darah seperti trombosit dan plasma darah memiliki peran penting sebagai pertahanan pertama dari serangan penyakit yang masuk ke dalam tubuh (Aria, 2008).
Darah merupakan gabungan dari cairan, sel-sel dan partikel yang menyerupai sel, yang mengalir dalam arteri, kapiler, dan vena, yang mengirimkan oksigen dan zat-zat gizi ke jaringan dan membawa karbondioksida serta hasil limbah lainnya (Mayhoneys, 2008).
1.2.  Komponen Penyusun Darah
Menurut Isnaeni (2006), darah tersusun atas plasma dan tersusun atas sel darah. Sel darah mencakup eritrositk, leukosit, dan trombosit, plasma darah yang mengandung sekitar 90% air dan berbagai zat terlarut atau tersuspensi di dalamnya. Zat tersuspensi berikut mencakup beberapa jenis bahan berikut:
  1. Protein plasma, yaitu albumin, glubolin, dan fibrinagen.
  2. Sari makanan, yaitu glukosa, monosakurida, asam amino, lipid.
  3. Bahan untuk dibuang dari tubuh, antara lain urea dan senyawa hidrogen.
  4. Berbagai ion, misalnya natrium, kalium, ulur, fosfat, kalsium, sulfat, dan senyawa bikarbonat.
Menurut Pungky (2010), komponen penyusun darah dari plasma darah (cairan) dan sel-sel penyusun dairan darah.
1.    Plasma darah
95% plasma darah terdiri dari air. Di dalam plasma darah terkandung salah satu faktor pembeku darah.
2.    Eritrosit
-          Bebentuk bulat gepeng, akung
-          Tidak punya inti sel
3.    Leukosit
-          Bentuknya berubah-ubah
-          Punya inti sel
4.    Trombosit
Trombosit berperan dalam pembekuan darah.
1.3.  Tahap Pembentukan Darah
Menurut Yustina, et.al (2005), dalam proses pembentukan sel darah merah terdapat tahapan-tahapan sebelum sampai terbentuknya sel darah merah matang. Ketika iosit adalah sel darah merah muda yang masih mengandung substansi basopilik dan akan berkembang menjadi sel darah merah matang. Setiap tahapan pembentukan sel darah merah melalui serangkaian proses yang melibatkan sintensis enzim. Wulangi (1993), dalam Yustina,et.al (2005) menyatakan apabila sintesis enzim pada retikulasit terhambat maka pembentukan retikulasit terganggu karena masuknya sulfida melalui darah ikan dan akan menghambat sintesis enzim katalose dan anhidrase karbonat yang terdapat pada retikulasit, akibatnya tidak akan ditemui sel darah merah matang.
Pembentukan sel darah merah (eritropoelsis) adalah subyek pengaturan “feed back” pembentukan ini dihambat oleh kenaikan sel darah merah dalam sirkulasi yang mencapai nilai diatas normal dan dirangsang oleh anemia. Eritropoelsis juga dirangsang oleh hipolsia dan kenaikan jumlah sel darah merah yang beredar adalah gambaran yang meninjol dari aklimatisasi pada dataran tinggi. Eritropoelsis diatur oleh suatu hormon glikoprotein yang beredar yang dinamakan eritropreikim yang dibentuk oleh kerja dari faktor ginjal pada globulin plasma. Hormon ini mempermudah diferensiasi sistem sel “commited” (sistem sel yang sensitif terhadap eritropoekim) menjadi proeritroblast (Ganong, 1981).
1.4.  Fungsi Darah
Menurut Shahar (2010), fungsi darah sebagai alat pengangkut yaitu :
-       Mengambil oksigen / zat pembakar dari paru-paru untuk diedarkan ke seluruh jaringan tubuh
-       Mengangkut karbohidrat dari jaringan untuk dikeluarkan melalui paru-paru dibagikan ke seluruh jaringan /alat tubuh
-       Mengangkat / mengeluarkan zat-zat yang tidk berguna bagi tubuh untuk dikeluarkan melalui ginjal
Darah memiliki fungsi utama yaitu menjaga keseimbangan pH. Fungsi utama yaitu menjaga keseimbengan pH tubuh. Fungsi utama sistem sirkulasi darah adalah sebagai mediatransport zat-zat yang dibutuhkan oleh tubuh juga untuk transport panas dari dan kejaringan tubuh dan untuk mempertahankan diri dari serangan penyakit (Komarudin, 2009).
Menurut Scherr (1959), darah berfungsi sebagai media transportasi dan memberikan kontribusi kepada pembentukan lingkungan.

1.5.Komponen Penyusun Sistem Peredaran Darah
Komponen penyusun sistem peredaran darah adalah jantung, darah, saluran darah dan limfa. Saluran pembuluh darah utama dalam tubuh ikan adalah arteri danvena yang terdapat disepanjang tubuh (Evand, 2009).
Sistem peredaran darah ikan termasuk yang paling sederhana. Komponen yang menyusun sistem peredaran darah utama pada ikan:
1)    Jantung
2)    Darah
3)    Saluran darah
4)    Limpa
(Frans, 2010)
1.6.Peredaran Darah
Menurut Schreck and Peter (1990), meskipun peredaran utama bab ini yaitu analisis pada darah dan darah, terdapat beberapa pertimbangan fungsi sirkulasi yang tepat pula. Sesuai dengan hal itu terdapat review singkat mengenai pengaturan sirkulasi pada ikan, bagian ini akan fokus pada detak jantung, dan distribusi aliran dan penentuan mereka. Fitur struktural utama dari hati ikan ditinjau oleh Satchell (1971), Cancran (1975) dan Jones dan Randall (1978) dalam Shreck and Peter (1990), Carel (1984) dalam Shreck and Peter (1990) baru-baru ini memeriksa kinerja jantung dan pengaruhnya secara rinci. Semua variosus, atrium dan ventrikel, dan ikan bertulang sejati, ventrikel mengarah ke bulbus arterious. Daging bulbus arterious termasuk halus (sebagai lawan dari jantung) otot dan investasi jaringan ikat elastis dan bulbus arterious tidak kontrak dengan urutan dengan kamar jantung. Sinus venosus menerima saluran dari cuvier lateral dan posterior vena hati. Ruang terakhir adalah konus dan bulbus yang secara struktural memiliki otot polos dan mungkin tidak berkontraktil secara teratur serta tidak terjadi kitak selama siklus jantung.
Menurut Wartawarga (2009), pada proses peredaran darah. Darah dari seluruh tubuh yang mengandung CO2 kembali ke jantung melalui vena dan berkumpul di sinus venosus, kemudian masuk ke serambi. Selanjutnya, darah dari serambi masuk ke bilik dan dipompa menuju insang melalui konus arterious, aorta ventralis, dan empas pasang arteri arferon brakious, pada arteri erefen brokialis, oksigen diikat oleh darah, selanjutnya menuju arteri eferen brankialis dan melalui aorta darsalis darah diedarkan ke seluruh tubuh. Di jaringan tubuh, darah mengikat CO2 dengan adanya sistem vena, darah dikembalikan dari bagian kepala dan badan menuju jantung. Vena yang penting, misalnya: vena cardialis posterior dan vena cardialis posterior (membawa darah dari kepala dan badan), vena porta repalika (membawa dari tubuh melewati hati), vena porta renalis (membawa darah di tubuh melewati ginjal). Peredaran darah pada ikan disebut peredaran darah tunggal karena darah hanya satu kali melewati jantung.
1.7.Sistem Peredaran Darah
Menurut Isnaeni (2006), sistem sirkulasi pada hewan dibedakan menjadi dua, yaitu sistem sirkulasi terbuka dan tertutup. Sistem sikulasi terbuka bekerja dengan tekanan rendah. Dengan demikian, pada setiap kontraksi jantung, volume darah yang dapat dikeluarkan dari jantung ke rongga tubuh hanya sedikit. Selain itu, tekanan yang ditimbulkan oleh jantung untuk mendorong darah juga rendah sehingga darah mengalir dengan lambat. Pada sistem sirkulasi tertutup darah beredar dalam sistem pembuluh yang kontinu, didorong oleh kekuatan yang berasalah dari hasil kerja jantung. Sebagai motor penggerak, jantung bekerja dengan melakukan gerakan memompa secara terus menerus sehingga tekanan dalam pembuluh darah dapat dipertahankan tetap tinggi.
Sistem sirkulasi pada hewan air, misalnya ikan, umumnya memiliki jantung sebagai organ yang memompa cairan darah. Arah aliran darah biasanya ke anterior dalam saluran (pembuluh) ventral ke dalamposterior dalampembuluh darsal utama. Darah dipompa ke depan dari situ pembuluh branchial afferent memesuki insang. Darah yang mengandung oksigen mengumpul dalam pembuluh efferent, yang berkomunikasi dengan pasangan aorta dorsa-leteral yang mengangkut darah ke arah belakang ke aorta dorsal tunggal dan dari situlah kemidian didistribusikan ke seluruh bagian tubuh lainnya. Setelah melalui sistem kapiler jaringan tubuh, darah tersebut kembali ke jantung via vena-vena kecil yang membawanya ke dalam vene-vena utama memasuki aurikula (auricle) (yuwono dan Purnama, 2001).
Menurut Storer dan Rober (1957), jantung dua bilik terletak di lekak dalam rongga perikardinal. Darah dari venosus melewati sinus venosus menuju avrikel dinding tipis, dari sana darah menuju kedalam ventrikel otot, yang dipisahkanoleh katup yang berfungsi mencegah arus balik. Terjadi kontraksi berirama darah melalui konus arteriosus dan aorta ventral menjadi empat pasang arteri aferen branchial mengarah ke dorsal aorta dan akhirnya didistribusikan ke seluruh tubuh dan kepala.
1.8.Pengertian Sistem Imun
Ikan seperti hewan pada umumnya, memiliki mekanisme pertahanan diri terhadap patogen. Sistem pertahanan tersebut terdiri dari pertahanan konstitutif menjalankan pertahanan secara umum terhadap invasi flora normal, kolonisasi, infeksi dan penyakit infeksi yang disebabkan oleh patogen. Sistem pertahanan konstutif disebut juga sebagai sistem pertahanan innate (bawaan atau alami). Adapun sistem pertahanan yang diinduksi atau dapatan (acculerea), maka untuk berfungsi dengan baik harus diinduksi antara lain dengan pemaparan pada patogen atau produk-produk yang berasal dari patogen (isalnya: LPS, Vaksin). Sistem pertahanan yang diinduksi meliputi pula respon imun terhadap patogen penyebab inveksi (Irianto, 2005).
Menurut Villee et.al, (1980), antigen biasanya merupakan protein yang ada hubungannya dengan bakteri dan virus yang masuk dalam tubuh, tapi sering protein asing dan polisakarida asing tertentu dan DNA dapat menimbulkan pembentukan antibodi. Tubuh telah mengembangkan imunitas terdapat antigen tersebut.
1.9.Proses Pembekuan Darah
Mekanisme pembekuan darah terbagi menjadi dua jalur utama, yaitu jalur intrinsik dan jalur ekstrinsik. Proses ini membutuhkan faktor-faktor pembeluan darah, yang sampai saat ini dikenal sebanyak 15 faktor. Diantara ke dua jalur tersebut jalur yang dipakai bersama, disebut jalur umum/jalur bersama, dan satu terdapat satu jalur lain yaitu jalur oksigen. Secara fisiologis, proses pembekuan darah ini akan dikendalikan oleh sistem fibrioriatik dan koagulasi. Kedua sistem tersebut bertugas merusak hasil bekuan darah yang diharapkan oleh tubuh. Jadi, hemostatis merupakan kerjasama diantara dua mekanisme tersebut (Prihadi, 2007).
Menurut Kimball (1983), pemadatan atau pembekuan darah mempu menghentikan semua pendarahan ini kecuali pembuluh darah yang rusak, keping darah melekat pada permukaan dalam diding pembuluh darah tersebut. Pembuluh darah dan sel-sel rusak didaerah ini melepaskan bahan bersifat lemah yang diaktifkan oleh protein-protein tertentu (faktor pembekuan) di dalam darah membentuk “tromboplastin”. Dengan adanya ion kalsium (ca++) dan faktor-faktor pembeku tambahan dalam plasma. Tromboplastin dibuat secara terus menerus oleh hati menjadi trombin. Trombin adalah sebuah enzim yang mengkatalis perubahan fibrinogen protein plasma yang dapat larut menjadi fibrin, protein yang tidak dapat larut. Fibrin secara berangsur membentuk suatu lubang tempat sel-sel darah tertanam dari pembuluh darah yang pecah.

1.10.      Hubungan Sistem Imun dengan Darah
Imunitas seluler diperantarai oleh limfosit-T yang terdapat di seluruh tubuh. Bila sel-sel ini bentrokan dengan antigen sel individu lain atau antugen atau sel-sel tumor atau virus, mereka diaktifkan. Limfosit-T membesar, membelah dan melepaskan Limfokines, yaitu zat dengan berat molekol besar yang berperan untuk menyerang protein asing. Berbeda dengan Limfosit B, yang mempunyai primotipe yang mampu mengenal semua yang mungkin merupakan antigen sebenarnya, efektor Limfosit T khususnya mengenal histokom patibilitas antigen (Ganong, 1981).
Semua hewan multisel mumpunyai mekanisme pertahanan tubuh. Pertahan tubuh dapat terjadi dengan berbagai mekanisme, antara lain mengaktifkan atau mengeluarkan berbagai sel asing dari tubh, menghancurkan mikrorganisme patogen beserta hasil rekresinya dan menyingkirkan sel abnormal dan sel bermutasi (contohnya sel kanker) yang muncul. Mekanisme pertahanan tubuh juga dapat terjadi dengan cara fagositosis paling primitif. Enkapsulasi (pembentukan selubung), menghasilkan antibodi atau sensitisasi limfosit. Faktor humoral (aglutinin) dalam cairan tubuh juga dapat menginaktifkan benda asing (pada invertebrata) (Isnaeni, 2006).